1. KUTAI TIMUR
  2. KOMUNITAS

Kader jumantik cilik jadi ujung tombak pemberantasan DBD

“Adik-adik akan dibekali ilmu tentang kesehatan khususnya (upaya pencegahan) penyakit demam berdarah,” kata Yuwana.

Ahsan dari Dinas Kesehatan ketika memberikan penjelasan mengena cara pemberantasan demam berdarah kepada jumantik cilik di kecamatan Karangan. ©2016 Merdeka.com Reporter : Ardian Jonathan | Rabu, 30 Agustus 2017 16:56

Merdeka.com, Kutai Timur - Setelah kecamatan Kaubun, kini giliran kecamatan Karangan yang menjadi sasaran tim Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2PM), Dinas Kesehatan  Kutai Timur (Dinkes Kutim), untuk melakukan sosialisasi pencegahan penyakit Demam Berdarah Dangue (DBD). Kegiatan diselengarakan di di Sekolah Dasar Negeri (SDN) VI Kecamatan Karangan, Rabu  (23/8) lalu.

Sekitar 32 pelajar di kecamatan tersebut, baik SD, SMP serta guru-guru ikut serta dalam penyuluhan tersebut. Kegiatan itu dipimpin Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) dr Yuwana Sri Kurniawati dan dihadiri Kepala UPT Pendidikan Karangan Syahrin serta perwakilan UPT Puskesmas Karangan dr Putu beserta pelajar.

Kepada kader Jumantik cilik, Yuwana mengatakan, bahwa yang hadir  merupakan siswa-siswi pilihan. Artinya siswa-siswi ini sudah siap menjadi kader jumantik cilik karena merupakan ujung tombak Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) dalam memberantas DBD.

“Adik-adik akan dibekali ilmu tentang kesehatan khususnya (upaya pencegahan) penyakit demam berdarah. Secara global para kader Jumantik tidak hanya memantau jentik nyamuk saja tetapi memberantasnya,” ucap Yuwana kepada siswa-siswi yang hadir.

Senada dengan itu Kepala Seksi P2PM Ahsan Zainuddin mengatakan, Dinkes lebih mendorong kegiatan pemberantasan nyamuk kepada anak sekolah.

“Kita menanamkan perilaku Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) pada anak sedini mungkin. Sebab, menggerakkan anak sekolah lebih mudah dibandingkan dengan orang dewasa,” tutur Ahsan.

Wakil Ketua Forum Kabupaten Sehat (Forkahat) Abu Faqih berpesan kepada guru, agar kegiatan ini bisa berkelanjutan. Nantinya ada dorongan bersama sekolah dan UPT Puskesmas agar guru-guru yang hadir tidak berganti lagi. Dengan kata lain peserta kegiatan lanjutan harus orang yang sama. Kerena jika diganti, informasi akan terputus dan tidak berkesinambungan.

Pria yang bekerja sebagai guru ini menambahkan, program seperti ini adalah program yang berkelanjutan dan harus didukung semua pihak. Ketika berbicara kesehatan maka fokus bukan pada Dinkes saja tetapi semua sektor seperti Dinas Pendidikan (Disdik ) dan Dinas Lingkungan Hidup, serta lapisan masyarakat lainnya harus bekerjasama memberikan dukungan. Karena penyakit demam berdarah bukan merupakan masalah lokal tetapi sudah menjadi me-nasional.

“Intinya, kerja sama Disdik dan Dinkes jangan stop hanya pada pembentukan kader Jumantik cilik saja, tetapi yang lebih penting lagi memberikan penghargaan kepada guru pembina UKS. Mulai dari tingkatan paling bawah karena merupakan ujung tombak kita dalam pembentukan karakter,” ujarnya.  

Kepala UPT Pendidikan Syahrin mengatakan, sangat mengapresiasi kegiatan ini dan mengucapkan terima kasih sebesar besarnya melalui Dinkes. Karena terus menerus mengadakan sosialisasi demi mewujudkan masyarakat yang sehat, khususnya tingkat anak sekolah.

“Mudah mudahan para kader jumantik cilik ini benar-benar bisa menerapkan dan mengaplikasikan apa yang didapat ke sekolah,” harapnya.

 

(AJ/AJ)
  1. Kesehatan
SHARE BERITA INI:
KOMENTAR ANDA