1. KUTAI TIMUR
  2. PARIWISATA

Ekpedisi ke hutan lindung Wehea untuk promosikan wisata Kutim

“Kita adakan lomba foto, sehingga mampu menggugah wisatawan agar tertarik berkunjung ke sana (hutan lindung Wehea),” kata Kasmidi Bulang.

Suasana rapat persiapan ekspedisi Wehea yang dipimpin langsung Wakil Bupati Kasmidi Bulang melibatkan OPD terkait, untuk mempromosikan wisata Kutim ke depan. ©2016 Merdeka.com Reporter : Ardian Jonathan | Kamis, 30 Maret 2017 06:47

Merdeka.com, Kutai Timur - Setelah sukses melaksanakan ekspedisi ke goa karst Mengkuris, kecamatan Karangan beberapa waktu lalu, Wabup Kasmidi Bulang kembali menggagas ekspedisi kedua dengan tujuan ke hutan lindung Wehea, kecamatan Muara Wahau. Kegiatan itu bakal dilaksanakan dua hari, yakni 8 dan 9 April mendatang.

Menurut rencana, ekspedisi ini bakal mengundang fotografer untuk dilombakan, sehingga hutan lindung wehea akan lebih dikenal lagi di dunia luar maupun masyarakat lokal di Kutim maupun Kaltim. “Kita adakan lomba foto, sehingga mampu menggugah wisatawan agar tertarik berkunjung ke sana (hutan lindung Wehea),” kata Wabup Kasmidi Bulang, ketika mempimpin rapat persiapan ekspedisi, Rabu (29/3/2017) kemarin di ruang Arau, kantor bupati.

Pada pertemuan tersebut, Wabup didampingi Asisten Pemerintahan Umum dan Kesra Mugeni, Kabid Pariwisata Tirah Satriani dan instansi terkait lainnya. Jika hutan lindung wehea menjadi destinasi wisata, diharapkan mampu mendongkrak Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kutim ke depan. Hadir juga kepala Adat Wehea, Ledji Taq dan sejumlah perwakilan Organisasi Perangkat Daerah (OPD).

Namun sebelum menuju ke hutan lindung Wehea, rombongan direncanakan diarahkan menghadiri upacara Lomplai, di desa Nehas Liahbing, kecamatan Muara Wahau. Hal ini dimaksudkan, juga memperkanalkan potensi adat menjadi salah satu destnasi wisata di kecamatan Muara Wahau yang potensial dan dipaketkan dengan wisata hutan lindung Wehea.

“Kita akan mendiskusikan masalah pengembangan wisata hutan ling Wehea di lokasi nantinya, dengan melibatkan semua peserta ekspedisi. Kita ingin ‘menjual’ potensi wisata kepada masyarakat luas, agar Kutim semakin dikenal masyarakat,” kata Kasmidi.

Dijelaskan, sebenarnya hutan lindung Wehea sudah dikenal di luar negeri. Namun masyarakat di Kutim belum semuanya mengenal dengan baik. Untuk itu, dirinya menggagas melakukan ekpedisi ini, agar masyarakat lokal bisa lebih mengenal lagi kondisi hutan lindung Wehea dan adat istiadat Lompla di Muara Wahau. Pihaknya berharap, potensi adat istiadat dan hutan lindung wehea ini menjadi salah satu destinasi andalan Kutim ke depan.

Dengan melakukan ekspedisi seperti ini, Ketua DPD Golkar Kaltim ini berharap, potensi wisata Kutim semakin dikenal dan memperoleh respon masyarakat luar untuk berkunjung ke sana (Wehea). Jika paket wisata Adat Lomplai dan hutan lindung Wehea ini ditulis media massa maupun di medsos, akan menjadi daya tarik tersendiri. “Kita targetkan paket wisata ini menjadi menarik dan dikunjungi masyarakat luas,” tambah Kasmidi.

Sedangkan Kepala Seksi Promosi dan Pariwisata Dispar Kutim Yunita Ronting menjelaskan ada beberapa kendala menuju ke hutan lindung Wehea. Antara lain infrastruktur jalan karena ada dua titik jalan rusak tanah yang tidak bisa ditembus mobil biasa, kecuali jenis mobil dobel gardan. “Transportasi memang cukup berat antisipasi jika cuaca memburuk seperti hujan deras,” katanya.

Asisten Pemerintahan Umum dan Kesra Mugeni menambahkan, untuk mencari solusi langsung berkomunikasi dengan perusahaan setempat, guna meminta bantuan perbaikan jalan menuju lokasi hutan lindung Wehea melalui program Corporate Social Responsibility (CSR). Diperkirakan untuk menuju ke camp utama di Wehea sekitar 60 kilometer dari perusahaan.

“Perbaikan jalan ini untuk mengantisipasi terjadinya kecelakaan dan tetap mementingkan safety. Kita ingin menjadi tuan rumah dalam pelaksanaan ekspedisi dan lomba foto ini dengan baik. Kita harus memberikan pelayanan kepada peserta ekspedisi,” katanya.


(AJ/AJ)
  1. Zona Turis
  2. Wisata
SHARE BERITA INI:
KOMENTAR ANDA