1. KUTAI TIMUR
  2. INFO KUTIM

12 penerjun payung meriahkan HUT k-18 Kutim pukau ribuan masyarakat

Aksi terjun payung menyita perhatian ribuan warga Sangatta yang memadati area lapangan, deretan parasut dari arah langit sudah mulai tampak.

Salah seorang penerjun payung dengan pakaian adat Dayak memperoleh perhatian penonton siap mendarat di halaman kantor pati yang sudah ditandai dengan asap orange. ©2016 Merdeka.com Reporter : Ardian Jonathan | Kamis, 12 Oktober 2017 15:47

Merdeka.com, Kutai Timur - Suasana di halaman kantor bupati pada Kamis (12/10) kemarin tampak berbeda. Ketika ribuan penari yang baru saja menunjukkan kebolehannya dalam rangka memeriahkan HUT ke-18 Kutim dan masih berada di tengah lapangan, tiba-tiba terdengar ada suara pengeras memintanya untuk minggir ke tepi lapangan.

Tak lama kemudian, ribuan penari berlari menuju pinggir lapangan, bai di sisi kiri, belakang maupun kanan lapangan. Sedangkan di depan ada panggung kehormatan yang ditempat Bupati Kutim H Ismunandar, Wakapolda Kaltim Birgjen Pol Nufal dan sejumlah pejabat serta undangan lainnya.

Ternyata, ada terjun payung yang dilaksanakan oleh prajurit Balalyon Intai Amfibi-1 Marinir Surabaya yang saat itu sedang berada di udara dan akan menuju titik merah di halaman kantor bupati. Selang beberapa menit, 12 penerjun payung tersebut mendarat dengan baik yang disaksikan ribuan penonton.

Para penerjun berangkat dari bandara Tanjung Bara milik PT Kaltim Prima Coal (KPC) menggunakan pesawat TNI AL CASSA CN 212 umar-615 berisi 14 awak yaitu dua pilot dan 12 penerjun yang terbagi menjadi 2 run.

Run 1 terdiri dari 5 penerjun, dan Run 2 terdiri dari 7 penerjun. Menggunakan teknik penerjunan berbeda di antaranya seperti kecepatan mendarat di daerah sasaran terjun mengibarkan Flag Jump, dan kerjasama parasut (CRW) bersusun.

Keseluruhan penerjun ini di bawah pimpinan Mayor Marinir Alim Firdaus sebagai Komandan Batalyon Intai Amfibi-1 Marinir Surabaya. Mereka datang atas undangan khusus dari Bupati Ismunandar melalui Danlanal Sangatta Letkol Laut (P) Mulyan Budiarta.

Aksi terjun payung menyita perhatian ribuan warga Sangatta yang memadati area lapangan. Sekitar pukul 11.00 Wita, deretan parasut dari arah langit sudah mulai tampak, beberapa penerjun sudah melakukan maneuver dikenal degan dua metode yaitu HALO dan HAHO adalah salah suatu metode pengiriman personil, peralatan, dan pasokan dari transportasi pesawat terbang dari ketinggian. HALO (High Altitude-Low Opening) bias diartikan terjun pada ketinggian yang tinggi dan membuka parasut pada ketinggian yang rendah. Sedangkan HAHO (High Altitude-High Opening) yang artinya tidak jauh beda dengan terjun HALO yaitu melakukan pembukaan parasut pada ketinggian hanya beberapa detik setelah jumping dari pesawat terbang dan terjun ini dikenal sebagai Militer Free Falls (MFF).

Dari beberapa penerjun ada salah satu senior prajurit bernama Serka Marinir Abdul Khiron yang mengenakan pakaian adat bermotif dayak. Hal ini pun menjadi pemandangan berbeda, karena aksi terjun payung cukup unik menggunakan kostum berbeda pada umumnya.

Ditemui setelah penerjunan, dirinya mengungkapkan ada perbedaan cuaca saat penerjunan kemarin dan hari ini. Sebelumnya cuaca bersahabat didukung panas matahari, namun pas di momen utama cuaca seketika berubah menjadi mendung dan tekanan udara ekstrem  karena hujan rintik mulai turun mempengaruhi visibililty (jarak pandang).

“Kami terbang sudah 1.1001 kali jadi sudah menyesuaikan dengan factor alam apa pun, bias menyesuaikan kondisi di tengah kesulitan. Kostum dayak ini intruksi dari komandan meramaikan HUT Kutim ke-18 biar guyub (akrab). Kami latihan bersama tim cukup dadakan namun sebagai prajurit intinya siap. Sebelumnya tim juga sudah melakukan atraksi di HUT TNI ke-72 beberapa waktu lalu di Cilegon Banten,” ucapnya.

(AJ/AJ)
  1. Peristiwa
SHARE BERITA INI:
KOMENTAR ANDA