1. KUTAI TIMUR
  2. INFO KUTIM

Gawat, APBD Kutim bakal terpangkas Rp 1,4 triliun

“Jika ini terlaksana, akan berdampak signifikan terhadap pembangunan,” kata Wabup Kasmidi Bulang.

Wabup Kasmidi Bulang didampingi tiga asisten sekda memimpin rapat koordinasi menyangkut rencana pemangkasan anggaran.. ©2016 Merdeka.com Reporter : Ardian Jonathan | Kamis, 11 Agustus 2016 16:54

Merdeka.com, Kutai Timur - Kemungkinan  target  optimalisasi  penerimaan  negara  dari  beberapa sektor,  termasuk  dari  sektor  pertambangan  dan  perkebunan  hingga  triwulan  III   tahun  berjalan tidak  bisa  maksimal.  Persoalan  tersebut  akibat  lesunya  perekonomian  dunia  secara  global.  Hal  itu berimplikasi  ke  seluruh  daerah,  termasuk  Kabupaten  Kutai  Timur  (Kutim)  sebagai  daerah  penghasil.

“Pemerintah  pusat  berencana  melakukan  kebijakan  penghematan  (dengan  cara)  pemangkasan anggaran  belanja  secara  nasional,  dengan  pukul  pro  rata  semua  daerah  tanpa  mempertimbangkan  apakah  itu  daerah  penghasil  atau  bukan.  Wah,  gawa   Kutai  Timur  APBD-nya diasumsikan  bakal  terpangkas  sekitar  Rp 1,4  triliun  tahun  berjalan  ini,”  jelas  Wakil  Bupati  Kasmidi Bulang  saat  memimpin  rapat  koordinasi  di  Ruang  Meranti  Kantor  Bupati,  Senin  (8/8)  lalu.

Pemangkasan  itu  tentunya  akan  berdampak  signifikan  terhadap  program  pembangunan  yang  sudah  berjalan.  Berikutnya  juga  akan  ada  koreksi  terhadap  mata  anggaran  di  tiap  Satuan  Kerja Perangkat  Daerah  (SKPD).  Namun  demikian  koreksi  akan  dikaji  mendalam  sehingga  program prioritas  tetap  bisa  berjalan.

“Jika  benar-benar  terealisasi,  paling  dulu  perjalanan  dinas  akan  dipangkas.  Mengenai  belanja pegawai  termasuk  besaran  insentif   akan  dibahas  secara  khusus  dengan  tim  terkait.  Kami  akan rapat  terbatas  dengan  Bupati  mengantisipasi  hal  tersebut,”  ujarnya.

Wabup  menerangkan  bahwa  Pemkab  Kutim  akan  mencari  alternatif  sumber  pendapatan  asli  daerah  (PAD).  Yakni  dengan  optimalisasi  penerimaan  pajak  dan  retribusi  daerah,  potensi  pariwisata  termasuk  biaya  tambat  kapal  di  pelabuhan.  Untuk  royalti  sektor  pertambangan  dan perkebunan  akan  berkoordinasi  dengan  pihak  Provinsi  Kalimantan  Timur  (Kaltim).

“SKPD  sektor  pertambangan  dan  perkebunan,  saya  instruksikan  memberikan  data  akurat  kepada Bupati  mengenai  laporan  besaran  royalti   yang  diserahkan  ke  Propinsi  Kaltim,  yang  punya kewenangan  sebagai  konsekuensi  UU  (Undang-Undang)  Otonomi  Daerah  yang  baru.  Kita  akan koordinasi  dengan  propinsi  secepatnya,”  jelasnya.

Sementara  itu  Kepala  Dinas  Perhubungan  Komunikasi  dan  Informatika,  Johansyah  Ibrahim  yang hadir  pada  rakor  tersebut  menjelaskan  bahwa  selama  ini  Kutim  tidak  pernah  menerima  retribusi  atau  biaya  tambat  kapal  yang  berlabuh  di  pelabuhan  khusus  KPC.  Tiap  tahun  Kutim  kehilangan potensi  pendapatan  antara  Rp  30-40  miliar.

“Ini  menjadi  potensi  luar  biasa  jika  Pelabuhan  Kenyamukan  telah  beroperasi.  Karena  ini  pelabuhan  khusus,  maka  kewenangan  sepenuhnya  ada  pada  Syahbandar,  bukan  di  pemerintah daerah.  Ya,  potensinya  bisa  sampai  Rp  30-40 miliar  per  tahun,”  kata  Johansyah,  mantan Kabag Humas  sembari  menjelaskan  bahwa  Pelabuhan  Kenyamukan  rencananya  sudah  bisa  beroperasi tahun  2017.

(AJ/AJ)
  1. Info Kutai Timur
  2. Pemerintahan
SHARE BERITA INI:
KOMENTAR ANDA