1. KUTAI TIMUR
  2. INFO KUTIM

Adat masyarakat Dayak Wehea ditetapkan jadi Warisan Budaya Tak Benda

“Terima kasih kepada seluruh masyarakat Wehea atas kontribusinya menjaga kelestarian budaya Lom Plai ini," ujar Wakil Bupati Kasmidi Bulang.

Budaya Lom Plai masyarakat Adat Dayak Wehea. ©2016 Merdeka.com Editor : Farah Fuadona | Senin, 01 Agustus 2016 10:19

Merdeka.com, Kutai Timur - Kerja keras dan kecintaan masyarakat memelihara dan mempertahankan nilai-nilai budaya luhur dalam masyarakat Dayak Wehea yang bermukim di 6 desa di Kecamatan Muara Wahau mendapat apresiasi tinggi oleh pemerintah Indonesia. Melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (RI), pesta adat Lom Plai mendapat piagam penghargaan dan diakui sebagai warisan budaya tak benda Indonesia.

Piagam penghargaan dari pemerintah pusat tersebut diserahkan oleh Wakil Bupati Kutai Timur (Kutim) Kasmidi Bulang kepada Ketua Adat Wehea Ledji Taq. Penyerahan piagam dimaksud dilakukan pada puncak acara pesta adat Lom Plai di Desa Nehas Liah Bing, belum lama ini.

Wakil Bupati Kasmidi Bulang saat ditemui di lokasi kegiatan mengatakan bahwa dirinya sangat bangga menjadi warga Kutai Timur, yang dikenal memiliki beragam budaya dan adat istiadat. Terlebih kenyataan yang ada masyarakat tetap mampu menjaga dan memelihara nilai-nilai luhur dari berbagai macam pengaruh budaya luar.

“Terima kasih kepada seluruh masyarakat Wehea atas kontribusinya menjaga kelestarian budaya Lom Plai ini dan saya bersyukur dalam segala hal. Itulah kata tepat untuk menunjukkan suasana masyarakat Dayak Wehea yang tetap menggelar pesta adat Lom Plai tahun ini. Meskipun gagal panen dan hasilnya tidak banyak dibanding tahun lalu akibat kemarau panjang, saya melihat masyarakat Dayak Wehea tetap merayakan Lom Plai dengan penuh rasa suka cita,” ujar Kasmidi.

Lom Plai adalah mitologi yang diyakini masyarakat Dayak Wehea tentang asal usul padi. Kisahnya dimulai dari seorang yang bernama Diang Yung, seorang Hapui Ledoh (pemimpin perempuan/ratu) yang mempunyai putri tunggal nan cantik jelita bernama Long Diang Yung. Pada masa pemerintahannya terjadi paceklik, kekeringan panjang sehinga banyak warganya meninggal dunia.

Dalam tidurnya Sang Hapui bermimpi didatangi oleh Dohton Tenyei (Yang Maha Kuasa), yang memintanya untuk mengorbankan putri semata wayangnya-Long Diang Yung. Jika ingin menyelamatkan kehidupan warganya. Saat terjaga dari tidurnya dalam hati Sang Hapui terjadi peperangan antara keinginan menyelamatkan masyarakat dan mempertahankan kehidupan putri tunggalnya, penerus keturunannya. Dalam pertemuan dengan para tua-tua adat dan pemuka masyarakat diambil kesimpulan bahwa masyarakatlah yang harus diselamatkan.

Tradisi Lom Plai
© 2016 kutaitimur.merdeka.com/Humas Kabupaten Kutai Timur

Leidji Taq menjelaskan bahwa, kepercayaan yang begitu mendalam terhadap mitos ini terus dipertahankan oleh masyarakat Dayak Wehea melalui ritual Lom Plai atau Erau Padi. Rangkaian ritual dalam Lom Plai ini dimaksudkan sebagai simbol rasa syukur kepada Putri Long Diang Yung yang kini dipercaya sebagai Dewi Padi.

“Lom Plai sebagai manifestasi tradisi yang dimiliki oleh Suku Dayak Wehea, sebenarnya merupakan sebuah pesan dan pelajaran soal bagaimana berhubungan, menghargai dan melindungi alam juga kehidupan. Di balik upacara itu sesungguhnya tersimpan sebuah sistem pengetahuan dan kebijaksanaan yang telah teruji selama berabad-abad lamanya,” jelasnya mendetail.

Ritual Lom Plai sendiri terdiri atas 17 rangkaian acara yang bisa berlangsung selama satu bulan. Erau Lom Plai dimulai dengan memukul gong atau Ngesea Egung dan diakhiri dengan nyanyian doa untuk mengusir segala yang jahat dan mendoakan datangnya kehidupan yang lebih baik bersamaan dengan terbenamnya matahari atau Embos Epaq Plai.

Puncak atau akhir dari perayaan Lom Plai adalah tarian Hudoq. Sebuah tarian yang dipercaya sebagai tarian memanggil jin untuk membantu menjaga kesuburan tanah dan menyembuhkan penyakit yang digelar di tanah lapang.




(FF)
  1. Info Kutai Timur
  2. Seni dan Budaya
  3. Zona Turis
SHARE BERITA INI:
KOMENTAR ANDA