1. KUTAI TIMUR
  2. SENI BUDAYA

Tarian perang kolosal di sungai tarik perhatian pengunjung

“Tarian ini sekaligus menghibur pengunjung agar tidak berada di jalan saat ritual Embos Min dilaksanakan,” ujar Nyuk Guel.

Suasana tarian perang di atas perahu yang berlangsung di tengah sungai Wehea yang disaksikan Wabup Kasmidi Bulang. ©2016 Merdeka.com Reporter : Ardian Jonathan | Kamis, 13 April 2017 16:17

Merdeka.com, Kutai Timur - Pelaksanaan pesta adat Lom Plai di desa Nehes Liah Bing, kecamatan Muara Wahau, kabupaten Kutai Timur pekan lalu, masih menyisakan cerita. Salah satunya kegiatan yang cukup menarik serangkaian pesta adat tersebut adalah, tarian perang-perangan secara kolosal di atas perahu yang berlangsung di tengah sungai Wehea.

Atraksi yang ditampilkan putra daerah setempat itu, menarik perhatian masyarakat dan pengunjung, termasuk Wakil Bupati Kasmidi Bulang dan istri Ny Tirah Satriani dan rombongan yang saat itu hadir menyaksikan pesta adat Lom Plai. Atraksi tarian tesebut seperti kejadian di film kolosal.

Tarian yang ditampilkan warga di tengah sungai Wehea itu, dinamakan Enjiak Sun Setung, yaitu sebuah tarian di atas rakit kayu berukuran 2,5 x 8 meter. Di kiri dan kanan diapit dua buah perahu ces membawa sang penari melintas dari hulu ke hilir sungai. Ada 4 penari perempuan ditemani 2 penari pria mengangkat Mandau. Dua pemain kecapi atau sampe mengiringi gerak tari. Tarian ini pun menyedot perhatian warga setempat serta pengunjung di sepanjang tepi Sungai Wehea, sembari menunggu ritual adat Embos Min, atau pembersihan kampung selesai dilaksanakan.

“Sejak dulu sudah dilakukan secara turun temurun hingga sekarang. Tarian ini sekaligus menghibur pengunjung agar tidak berada di jalan saat ritual Embos Min dilanakan,” ujar Nyuk Guel salah seorang warga Wehea.

Prosesi pesta adat ini dilanjutkan dengan Seksiang, atau perang di sungai. Sekitar 14 perahu unjuk gigi dalam upacara ritual memenuhi seisi perahu dengan tombak Weheang. Satu tim perahu terdiri dari 4 orang, mereka membawa tombak Weheang terbuat dari batang tanaman. Untuk menunjukan siapa yang paling kuat di antara mereka, semuanya berlomba mengayuh perahu ke tengah sungai dan melemparkan tombak Weheang. Puluhan tombak ini melayang mencari sasaran seolah terjadi perang. Mengenakan ikat kepala dan baju  daerah Wehea. Seluruh  peserta laki-laki tampil heroik dan penuh semangat. Selepas kegiatan ini ada hiburan penampilan lomba perahu naga yang juga tak kalah heboh.

Ritual Paknai juga tak kalah seru, ketika setiap masyarakat maupun pengunjung saling mengenakan atau menyiramkan air. Jika di Tenggarong Kutai Kartanegara (Kukar) hampir sama dengan tradisi belimbur. Tak ketinggalan menggoreskan arang dari sisa pantat panci yang menghitam ke wajah semua warga dan pengunjung. Pastinya semua warga yang dicoreng wajahnya tak boleh marah.

Fotografer kenamaan Ebbie Vebri Adrian asal Jakarta menyempatkan datang ke Lom Plai. Pria yang melahirkan bingkai gambar Indonesia secara lengkap di 34 Provinsi terangkum dalam buku foto Indonesia A World of Treasures itu berbagi inspirasi.

“Saya datang ke Wehea sebagai bagian misi melengkapi potret Kaltim mengabadikan alam dan budaya. Sebelumnya saya sudah melintasi Kaltara. Setelah ini bergeser ke Kalbar, Kalteng, dan berakhir di Kalsel untuk bahan mengumpulkan cerita borneo dalam buku foto Kalimantan. Nantinya apabila bahan foto sudah lengkap buku ini akan dibagikan gratis ke 500 sekolah-sekolah yang tersebar di Kalimantan,” ungkapnya.

(AJ/AJ)
  1. Zona Turis
  2. Wisata
SHARE BERITA INI:
KOMENTAR ANDA