1. KUTAI TIMUR
  2. INFO KUTIM

Usai kelilingi demplot di Aceh, petani diminta tak hanya menanam

"Panitia sukses menggelar pameran demplot ini, dan akan kami bawa ke Kutim untuk dicontoh nantinya,” kata Mardjoni.

Plt Kadis Pertanian Kutim ketika melihat demplot pertanian saat digelar Penas KTNA di Aceh dan akan membawanya ke Kutim untuk dicontoh . ©2017 Merdeka.com Reporter : Ardian Jonathan | Senin, 22 Mei 2017 06:14

Merdeka.com, Kutai Timur - Pekan Nasional Kontak Tani Nelayan Andalan (Penas KTNA) yang berlangsung di Acek beberapa waktu lalu, memiliki dampak yang cukup besar bagi para petani. Sebab, pada event tersebut, disajikan sejumlah teknolongi pertanian dan tukar menukar ilmu pengembangan pertanian serta pemasarannya.

Ketika melakukan kunjungan kerja pada event Penas KTNA XV/2017 Aceh dimanfaatkan sebaik mungkin oleh Plt Kepala Dinas Pertanian (Kadistan) Kutai Timur (Kutim) Mardjoni untuk lebih berinteraksi lebih dalam dengan pameran gelar teknologi. Gawean Kementerian Pertanian bekerja sama dengan Badan Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Banda Aceh.

Selepas berdialog dengan para petani nelayan kontingen Kutim di sekretariat jalan Tgk Lampoh Bungoh, pria yang biasa akrab dipanggil Djoni ini langsung mengajak staff Dinas Pertanian yang juga koordinator pelaksana kegiatan Penas KTNA Anshori untuk mengunjungi lokasi demplot (lahan percontohan) tepat di belakang sebelah barat Stadion Harapan Bangsa Lhoong Raya.

Saat berada di area budidaya tanaman seluas 10 hektare, dirinya cukup terkejut pasalnya dalam membuat demplot diperlukan perencanaan matang. Biasanya sudah jauh-jauh hari proses mulai dari bertani dalam menyiapkan pengolahan pertanian, pemilihan bibit unggul, pengairan tepat waktu, pemupukan sesuai dosis, dan waktu panen jangan ditunda.

"Panitia sukses menggelar pameran demplot ini, tentunya akan kami bawa ke Kutim. Kutim juga bisa menggelar kegiatan seperti ini guna memacu teman-teman berkarya dalam kemampuannya bertani dipamerkan. Bisa saja nanti Dinas Pertanian akan memilih lahan mana yang cocok bisa ditanam berbagai macam tanaman pangan andalan Kutim," kata Mardjoni.

Dikatakan, ini menjadi bahan masukan buat pertanian Kutim agar lebih baik. Yaitu mengukur komoditi apa saja yang bisa menjadi Input membawa kekuatan Kutim sebagai pusat lumbung pangan Nasional terbesar di Kaltim. Dinas Pertanian dalam hal ini akan memilih diantara 18 kecamatan, yang produksi pertaniannya meningkat. Kegiatan KTNA ini dianggap perlu dan penting sekali, maka dari itu Kutim tidak pernah absen.

“Ilmunya susah dicari dan untuk itu Dinas Pertanian selalu mengirim duta petani dan nelayan lebih intens belajar. Keterlibatan teman-teman di KTNA dapat mengembangkan cara berpikir dan melihat ilmu apa saja yang mereka dapat selepas ini. Hasilnya di inventarisir tentang teknologi apa saja yang digunakan sekaligus sistem model pengolahan budidaya tanaman. Di situlah Dinas Pertanian dan petani Connect. Jangan sampai kita berencana masyarakat tidak siap. Tidak bisa menerima karena tidak tahu dengan adanya keikutsertaan ini," tegasnya.

Untuk itu juga diperlukan pembenahan petani memiliki intelektual dalam pengembangan diri mengolah kemampuan (skill) menggunakan fasilitas alat-alat pertanian mutakhir, mencari bibit-bibit yang cocok dengan kondisi tekstur tanah Kutim. Hingga proses membangun pembudidayaan tanaman contohnya di Kutim seperti jagung, kedelai, singkong, maupun padi.

Selain itu faktor agribisnisnya perlu direncanakan jangan sampai hanya cuman menamam memproduksi pasarnya harus dilihat pemasarannya. Harus gencar berpromosi diinternet, melihat siapa calon pembelinya dalam skala besar atau kecil, sehingga lebih cepat menguntungkan.

"Setiap tahun ada anggaran untuk desa membangun di setiap kecamatan oleh Pemkab. Demi mengejar pemanfaatan lahan sawah maupun kering untuk tanaman padi, jagung, dan singkong. Ini memang sudah sesuai arahan program duet kepemimpinan Ismunandar bersama Kasmidi Bulang (Bupati dan Wabup),” ujarnya.

Dijelaskan, pihaknya sudah memperkuat pemasaran melalui jaringan kerja sama dengan perusahaan alat pertanian. Terutama dari Surabaya dan Yogjakarta guna mendukung operasional produksi pertanian menuju Kutim sebagai pusat swasembada pangan.

(AJ/AJ)
  1. Pertanian
SHARE BERITA INI:
KOMENTAR ANDA