1. KUTAI TIMUR
  2. SENI BUDAYA

Ikuti ‘belimbur’, bupati dan wakil jadi ‘memutih’ seluruh badannya

“Jika Erau di Tenggarong menggunakan air, di Sangatta menggunakan tepung, namun maknanya sama,” kaya Dahrin.

Bupati Ismunandar, Wabup Kasmidi Bulang, Sekda Irawansyah, Kepala Adat besar Kutai Syaid Abdal Nanang Al-Hasani dan seluruh masyarakat melambaikan tangan, sebagai tanda ucapan sampai bertemu kembali tahun depan pesta adat pelas tanah. ©2016 Merdeka.com Reporter : Ardian Jonathan | Selasa, 22 November 2016 04:53

Merdeka.com, Kutai Timur - Suasana di Taman Bersemi, Sangatta Utara, Minggu (20/11/2016) lalu tampak berbeda dari biasanya. Ratusan masyarakat berkumpul untuk menyaksikan parade budaya dan menanti penutupan pesta ada pelas tanah dan pesona budaya Kutim 2016.

Bupati Kutim Ismunandar dan Wakil Bupati (Wabup) Kasmidi Bulang, Sekda Irawansyah serta sejumlah pejabat juga tampak hadir di lokasi tersebut. Usai parade budaya, semua berkumpul di tengah lapangan Taman Bersemi. Di sana sudah ada nasi bebaki (baki besar) yang dikerumuni banyak orang.

Siang itu, merupakan acara yang ditunggu masyarakat dan seluruh panitia maupun yang lainnya, yakni ‘belimbur’ sebagai puncak acara pesta adat pelas tanah dan pesona budaya Kutai Timur 2016.

Yang mengesankan adalah, antara masyarakat, pejabat dan pengusaha, tokoh masyarakat dan lainnya berbaur menjadi satu untuk saling melempar tepung terigu. “Jika Erau di Tenggarong menggunakan air, di Sangatta menggunakan tepung, namun maknanya sama,” kaya ketua panitia Aji Dahrin Pranoto.

Suasana menjadi riuh ramai. Baju maupun celana yang dikenakan bupati, Wakil dan sekda menjadi putih akibat lemparan tepung dari warga. Demikian juga rambut dan badannya, hamir semuanya memutih akibat pesta ‘belimbur’ tersebut. Namun suasana seperti itu justru lebih mengakrabkan antara pemimpin dan warganya, lantaran tidak ada sekat satu sama lainnya.

Ini merupakan salah satu destinasi wisata yang cukup menarik. Diharapkan tahun depan pesta adat pelas tanah ini menjadi lebih ramai dan jadi daya tarik bagi wisatawan, baik domestic maupun mancanegara. Sehingga Dinas Periwisara bisa mengagendakan sebagai kalender tetap untuk pariwisata Kutim ke depan.

"Biasanya (belimbur tepung) ini diistilahkan dengan beconteng, yaitu mengusapkan tepung yang dicampur air ke muka dengan menggunakan jari tangan. Tetapi dengan kali ini, tepung dijadikan seperti air yang disiramkan kepada seluruh orang," jelas Dahrin.

Dia menambahkan, tepung yang digunakan dalam belimbur ini adalah tepung berwarna putih, melambangkan kebersihan. Dari makna Belimbur pun adalah suatu penyucian diri dari pengaruh jahat sehingga kembali suci. Agar masyarakat dan lingkungan sekitar juga kembali bersih dari pengaruh yang tidak baik, serta diharapkan terhindar dari hal-hal yang tak diinginkan.
Usai belimbur, suasana pun kemudian hening, lagu Indonesia Raya pun berkumandang di depan bendera merah putih sebesar 5x10 meter persegi yang dibentangkan oleh komunitas pecinta alam kecamatan Bengalon, Mata Angin.

Sebelumnya, Bupati, Wakil Bupati, Sekkab, serta pejabat Pemkab Kutim lainnya juga menggelar tradisi makan bebaki bersama dengan ratusan masyarakat. Yakni makan bersama-sama dalam satu baki besar bersama warga.

(AJ/AJ)
  1. Zona Turis
  2. Info Kutai Timur
SHARE BERITA INI:
KOMENTAR ANDA